Misi utama Nabi Muhammad saw. Bukan untuk mengislamkan dunia, Tapi..........

Misi Utama Nabi Muhammad Saw. Bukan Untuk Mengislamkan Dunia, Tapi.....

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh saudara saudara ku. Kita bertemu lagi blog ini, udah lama yah kami tidak update.

Update-an kali ini, kami membahas mengenai Misi utama Nabi Muhammad Saw. diutus, sebenarnya diutus untuk apa Nabi Muhammad? Jika mengislamkan semua manusia di seluruh dunia, tetapi dalam Al-Qur'an menyatakan bukan tugas Nabi untuk mengislamkan dunia, lantas apa Misi Nabi ini ? Yuk temukan jawabannya dipembahasan ini.

Kami membuka tulisan ini dengan ayat 99 dari surah Yunus, yang mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad itu diutus bukan untuk mengislamkan dunia.
Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia di bumi. Maka, apakah engkau (Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang yang beriman semua ? (QS Yunus: 99).

Banyak yang kaget rupanya ketika disodorkan ayat ini. Misi utama Nabi Saw. itu sejatinya bukan untuk menaklukkan dunia dan mengislamkan semua orang.
Misi Nabi Saw. itu dijelaskan oleh Al-Qur'an sebagai rahmat untuk semesta alam. Dan tiadalah Kami(Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiya:107). Dijelaskan sendiri oleh Nabi Saw. dalam satu riwayat hadist shahih: " Innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Bukhari)

Menebar rahmat dan memperbaiki akhlak itulah misi utama Nabi Saw., bukan memaksa orang lain masuk Islam atau memaksa mengikuti fatwa dan tafsiran kita sendiri, atau bahkan memaksa orang lain mengikuti pilihan politik kita. Pemaksaan terhadap orang lain itu bukan rahmat dan bukan pula akhlak yang mulia. La ikraha fi al-din. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Tafsir Ibn Katsir menjelaskan: "Tidak perlu memaksa mereka. Barangsiapa dibukakan pintu hatinya oleh Allah maka mereka akan memeluk Islam. Barangsiapa dikunci hati, pendengaran, dan penglihatannya, maka mereka tidak akan mendapat manfaat jikalau dipaksa masuk Islam."

Tafsir Fi Zhilali Qur'an mengonfirmasi bahwa "manusia telah diberi tanggungjawab untuk memilih jalannya sendiri, dan mereka pula yang akan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut."

Keimanan itu tidak perlu dipaksakan. Dakwah itu mengajak, bukan memaksa. Maka hindari cara-cara yang memaksa. QS An-Nahl: 125 memberi kita petunjuk metode dakwah yang harus ditempuh. Pertama, dengan hikmah, kedua, dengan Mauizah Hasanah(nasihat/pelajaran yang baik), dan yang terakhir, kalau harus berdebat, bantahlah dengan argumentasi yang lebih baik.

Tidak perlu pula menjelekkan atau menghina kepercayaan orang lain. Bahkan, standar moral yang luar biasa ditegaskan dalam QS Al-An'am: 108: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Kita dilarang dengan tegas untuk menistakan Tuhan dan sesembahan agama lainnya. Inilah akhlak yang diajarkan Al-Qur'an.

Mari kawan, kita tunjukkan kepada penduduk dunia akan ketinggian ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta dan membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Begitu mereka tahu maka biarkan mereka sendiri yang akan berbondong-bondong masuk Islam.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (QS An-Nashr: 1-3).

Terimakasih saudara-saudaraku telah membaca di blog kami, semoga bisa bermanfaat bagi kalian, tulisan ini kami ambil dari buku yang berjudul Tafsir Al-Qur'an di Medsos karya dari prof. Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar